Sunday, December 22, 2013

+1IBU Kini Setiap Hariku Untuk Ibu




IBU yang hobi sekali mendongeng, saat semua kakak-kakak ku pulang ke rumah dan berkumpul, Ibu pernah bercerita kalau aku ini anak yang paling ‘mudah’ dan tak pernah rewel seperti kakak-kakak saya yang ‘nakal’ 

“Anak ku paling penak ki yo Richa, dari kecil sekolah adus dewe, pakai baju pake sendiri, berangkat sekolah sendiri, belajar ya gak usah disuruh udah belajar. Enggak seperti mbak mu itu, tali sepatu kalo tidak berwarna tak mau berangkat sekolah, mbak mu yang lain itu juga kalo tali pita rambutnya tidak baru tak mau berangkat sekolah”
Padahal dalam hati pernah menggererutu, menyesali nasib ku yang terlahir dimana usaha orang tua saya tak lagi bagus, melewati masa remaja tanpa uang saku yang besar, dan harus kuliah dengan penuh usaha dan kerja keras. Tak seperti mahasiswa lain yang bisa jalan-jalan setelah jam kuliah, datang ke kampus dengan tas, sepatu baju dan aksesoris yang serasi dan berganti-ganti tiap hari. Makan dan membeli apapun yang ia suka tanpa berfikir.


Terkadang untuk memuaskan diri dan menghibur diri ketika pulang kampung waktu Lebaran dan berkumpul dengan kakak-kakak yang sudah berkeluarga,aku seringkali malas membantu Ibu yang mendadak super sibuk. Pekerjaan rumah seperti menyapu, mencuci piring dan membersihkan rumah,  aku seringkali mengiri pada kakak-kakak.

Setiap kali Ibu memintaku untuk membantu mecuci piring, aku selalu menolak dan meminta agar kakak-kakaku saja yang mengerjakan, aku tidak mau hanya karena belum menikah dan belum punya anak, semua kerepotan dirumah harus aku juga yang menangani. 


Namun, meski aku begitu jahat, Ibuk tak pernah marah ia langsung mengerjakan apa yang ia perintahkan padaku tadi. Huh terkadang jadi geregetan dan aku terpaksa membantu ibuku. Nampaknya iri pada kakak-kakak dan susah disuruh bantu-bantu urusan rumah, itu melekat pada diriku, sehingga ibu sering lebih memilih lelah mengerjakan semuanya sendiri dari pada berdebat mulut denganku yang suka ngeyel dan bantah.

Sampai suatu saat ada kabar duka dari tetangga dekatku, bahwa Ibunya telah meninggal dunia. Padahal ibu itu adalah teman dekat ibuku namanya Bu Aisyah, pergi arisan, pengajian dan sholat tarawih pun sering berangkat bersama. Menurut ibuku, bu Aisyah tak pernah mengeluh sakit atau bahkan ada tanda-tanda akan pergi dahulu.


Beberapa anak dari bu Aisyah juga seumuran dengan kakak-kakak ku, bahkan ada kakak ku yang pernah di susui bu Aisyah, pastilah keluargaku dan mereka sangat dekat. Akhirnya mereka bercerita bahwa bu Aisyah sebelum meninggal sempat mengalami kelelahan.


Yup, keluarga bu Aisyah hampir sama seperti keluargaku dimana anak-anaknya sudah berkeluarga dan tinggal diluar kota, pulang hanya ketika ada acara atau bahkan hanya saat lebaran dan ketika semua pulang rumah menjadi penuh. Ibuk pasti sibuk menata, menyiapkan kamar untuk anak cucunya, membereskan barang-barang, memasak banyak sekali makanan untuk menyambut anak-anaknya daaaaaaaaan banyak lagi yang lainnya. Pada saat seperti itulah bu Aisyah tiba-tiba jatuh sakit karena kelelahan dan tinggal di rumah sakit beberapa hari lalu meninggal.


Aku yang mengetahui hal itu sangat shock, kaget dan rasanya seperti sambaran petir. Seolah tuhan memperingatkanku bahwa aku tak boleh membiarkan ibuku bekerja keras dimasa tuanya, aku tak boleh egois. Kemudian pikiranku melayang mengingat beberapa teman dekatku yang ibunya telah tiada, tak ada yang memasakkan makanan istimewa di hari lebaran.

 Semenjak itu……


Aku tak mau lagi membiarkan ibuku lelah ataupun sedih dan berfikir keras. Aku ingin menjaga ibuku dimasa tuanya, karena aku kerja di luarkota dan tak bisa tipa hari bersamanya. Maka saat aku pulang rumah aku tak akan lagi malas membantu Ibuku.


Lebaran tahun berikutnya…

Seperti biasa saat lebaran ibuku membuat aneka masakan yang tak ketinggalan adalah ketupat dan sayur mayurnya. Aku tak membiarkan Ibu sendirian, apapun yang ia butuhkan aku ambilkan, apapun yang ia perlukan akan aku bantu, sebisa mungkin ibuku tidak terlalu capek. Aku menyapu, aku mencuci piring, aku mengupas bawang, menggoreng ayam dan banyak lagi lainnya. Bahkan ketika ibu semalaman di malam takbiran tidak tidur karena harus menunggu matang nya ketupat pun saya ikutan tidak tidur.

Ibu pun merasa aneh dengan diriku, aku yang biasanya susah kalau disuruh, malas kalo memegang peralatan rumah tangga, tiba-tiba kok begitu Rajiiiiinnnn… ibuku pun nampaknya tau apa yang ada dipikiranku… 

                “kamu … takut kalo ibu mati yaaaa…” sambil bernada menggodaku..

               “hmmmmm…” akupun tak bisa berkata apa-apa, hanya memeluk ibu eraaat…. Aku terlalu malu berbicara padahal dalam hatiku berkata banyak hal

Ibuk… maafkan aku yang selalu tak bersyukur…
Maafkan aku yang selalu bertanya-tanya kapan kau akan membelikanku baju baru..
Maafkan aku yang selalu membantah, saat diajari olehmu memasak yang benar…
Maafin aku yang selalu bermalas-malasan saat kau butuh bantuanku…
Maafkan aku selalu membuatmu menunggu….
Maafkan aku yang belum bisa memberikan apapun untukmu…
Tuhaaaaannn…
Please panjangkan umur ibuku..
Aku akan bekerja keras untuk buatnya bahagia….

Dan di hari ibu ini, aku telah sempatkan menelpon selama satu jam, bercanda, bergurau dan bercerita banyak dengan ibu… meski ditanggal tua ini keuanganku cukup menipis dan saldo pulsa menipis, untuk Ibu aku kan usahakan selalu ada. Tidak hanya hari ini saja, sesibuk apapun ah sok sibuk aku akan telpon ibu menanyakan kabarnya dan mendengarkan ceritanya.

Semoga dengan sepert ini bisa mengobati ksepian dan kerinduan Ibu pada anak-anaknya.

Hingga rasanya aku ingin kembali pulang…..
Yuk yang masih punya ibu, lindungilah ibu kita yang tak pernah lelah merawat kita, memperhatikan hidup kita dan mendampingi hidup kita hingga akhir hayatnya.

0 comments:

Post a Comment

Silakan komentar

 

The Journey of Life Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang