Monday, June 29, 2015

Ramadhan Tanpa Meja Makan

Jakarta, apa yang terbayang tentang kota ini? Gedung tinggi? Rumah elit? Rumah kardus, rumah sempit ? anak jalanan di bawah jembatan? Yah, semua memang ada di Jakarta, dari surga sampai neraka ada disini. 

Di televisi mungkin kita lebih banyak menjumpai tayangan-tayangan dengan latar rumah yang bagus megah luas dan indah. Hanya beberapa dan sekilas saja yang menampilkan potret kehidupan RSSS (Rumah Sangat Sempit Sekali) di Jakarta.

Doc Pribadi: Potret Rumah di Kampung di Jakarta. Gang sempit, Rumah dempet-dempet


Aku yang dulu hanya menyaksikan kota ini dari layar televisi, aku tak menyangka kini aku menjadi bagian dari orang-orang yang tinggal di RSSS ini. Aku menikah dengan suamiku dan kami terpaksa harus tinggal dengan orang tuanya sementara, sembari kami menabung untuk membeli rumah sendiri di sekitar JABODETABEK ini. Kami sering sekali mengecek harga-harga rumah di kawasan Depok Tangerang dll melalui rumah.com tapi lagi-lagi tabungan kami belum cukup.

Doc Pribadi: Cari Rumah di Tangerang

Pada hari-hari biasa kami jarang sekali makan bersama. Karena kegiatan dan aktifitas masing-masing. Bapak yang kerja, Mama juga sibuk dengan dagangannya, adik sibuk kuliah, adik yang masih kecil juga lebih sering main di luar dengan teman temannya.

Doc Pribadi: Sahur Di Ruang Utama Serba Guna


Saat Ramadhan semua menjadi istimewa, kami yang jarang makan bersama (selain tak ada waktu juga tak ada ruang atau meja makan di rumah ini) kini di bulan Ramadhan lebih banyak waktu bersama keluarga. Mulai dari sahur bersama, buka bersama, tarawih bersama hingga tadarus bersama.

Nah, rumah yang biasanya hanya jadi tempat 'lewat', di bulan Ramadhan menjadi tempat yang ramai dan penuh. Ya, karena setiap hari kita buka bersama, sahur bersama dan kumpul disini.

Doc Pribadi: Sahur Di Ruang Utama Serba Guna


Sayangnya rumah mertua saya adalah rumah mungil kecil yang tak banyak ruangan. Lantai satu hanya satu ruangan yang multifungsi. Untuk ruang tamu, ruang makan, dan ruang nonton TV. Mama mertua juga kalau meracik bumbu masakan disini. Dapur hanya selebar kompor double dan cukup untuk 2 orang berdiri.  

Doc pribadi: Kamar Mungil di Lantai 2 Rumah

Kemudian di rumah ini ada Lantai dua, disana ada dua kamar mungil dan satu space cukup untuk sholat berjamaah berdua. Kemudian lantai tiga ada satu kamar dan satu ruangan los serbaguna. Di lantai 3 ini kami sering melakukan sholat jamaah sekeluarga setelah berbuka puasa, sholat subuh bersama saat setelah sahur. 

Saat Ramadhan Rumah ini berisik sekali.

Mulai dari bangun mama selalu teriak-teriak dari lantai satu "awaaaaaaaaa habiib banguunnn riooo bangun sahooor"  teriak mama membangunkan adik-adik suamiku. Kenapa gak aku yang bangunkan? Ah jangankan aku teriakan mama yang cetar membahana badai saja tak mempan apalagi aku yang hanya mampu teriak lewat tulisan.
 
 
Doc Pribadi: Tangga Rumah enuju lantai 2


Masih belum pada bangun juga. Suaranya jelas sekali Mama mulai melangkahkan kaki menapaki setiap tangga kayu menuju lantai dua dan tiga untuk membangunkan adik adik yang super susah bangunnya. Tek tek tek tek.... “Sambil teriak bangun sahur sahuurrr!”

Tak lama kemudian adik pun turun ke lantai satu untuk sahur, saat sahur pun pasti ada saja yang diminta. Sudah ada teh, minta es Jeruk. Sudah ada nasi putih minta nasi goreng. Sudah ada tempe minta telur dadar. Hemm karena adik masih duduk di kelas 4 SD ini sangat kuat puasanya sampai sehari full, maka mama mertua pasti saja menurutin permintaannya. Kadang mama malah bikin menu lebih dari tiga. Karena Bapak, mama, suami saya, adik-adik sukanya beda-beda. Maka tak heran jika banyak sekali makanan yang tersaji di lantai *bukanmejamakanlhoo hehehe

Doc Pribadi: Aneka Makanan di lantai bukan meja makan


Setelah sahur, sholat subuh suara nyaring Mama mertua membaca Al-Qur’an di lantai satu ruang serbaguna tadi, rasa-rasanya terdengar sampai satu RW. Begitulah nada ‘backsound’ pagi hari rumah mungil ini di bulan Ramadhan. Setelah mengaji biasanya Mama sudah berangkat ke pasar beli bahan masakan untuk buka puasa. Kadang juga pergi ke Tanah abang untuk belanja baju-baju yang akan di jual. 
 

Setelah dzuhur Mama sudah mulai sibuk di dapur. Mama hobi sekali masak dengan macam yang banyak di dapur yang kecil ini. Tak adanya ventilasi atau jendela di dalam rumah membuat aroma-aroma masakannya memenuhi rumah mungil ini bahkan sampai ke tetangga-tetangga. Godaan puasa… :D

 
Doc Pribadi: Dapur yang sangat sempit di Rumah

Adik ipar yang masih SD itu pasti juga ngerecoki mama, request ini dan itu untuk menu buka puasanya. Mama tak akan sanggup menolak meski kadang mama marah-marah karena di recokin. Karena kalau bukan bulan Ramadhan Mama jarang masak, lebih sering cari makan sendiri-sendiri karena masing-masing punya kegiatan dan kerjaan. Ah pokoknya rame kalau sudah mulai masak dan makan.

Begitu pula saat buka puasa menjelang, adik dan suamiku pasti rebutan gelas sendok dan es, cepat-cepatan ambil, padahal stoknya banyak juga, dasar suami saya aja yang sukanya usil godain adiknya. Moment seperti ini tak akan ada di bulan-bulan biasa. Meski rumah kami sangat sempit sekali, tanpa meja makan, tapi keseruan berbuka dan ber Ramadhan di rumah kecil ini pasti akan sangat saya dan suami rindukan saat sudah punya rumah sendiri nanti. 

Kami selalu bersyukur dan rumah yang sempit dan tanpa meja makan ini menjadi sangat luas dan menggembirakan. Karena bahagia itu letaknya di hati


1 comments:

  1. alhamdulillah, selamat ya tulisannya jadi juara nih :)
    berkah ramadhan. btw sahur dengan menu dan suasana nyaman di rumah itu bahagianya tiada dua di dunia ^^

    ReplyDelete

Silakan komentar

 

The Journey of Life Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang