Thursday, November 19, 2015

Fakta Di Balik Antibiotik dan Himbauan GeMa CerMat

Suatu hari mata saya berair setiap kali membaca buku. Keluar air mata berlinang hingga menetes-netes seperti orang menangis, padahal mata saya tidak merah, tidak sakit saya juga tidak menangis. Berhubung mata suami saya min, maka ia trauma dan tidak ingin saya merasakan penderitaan mata min sepertinya. Langsunglah ia bawa aku ke dokter. Sumpah saya merasa ini sangat lebay, tapi bagi suami saya ini penting. Well saya ikuti saja kemauannya.

Dokter melihat, memeriksa mata saya. Suami saya ikut memperhatikan dengan perasaan cemas dan ikut menerangkan gelaja yang saya rasakan.

"Hmmmmm..... mbak matanya gatal, perih??"
"Enggak dok,"
"Badannya terasa demam??"
"Enggak juga dok.."
"Pusing?"
"Enggak dok.."

Suami saya "Kenapa dok mata istri kok kalau baca buku sejak kemari keluar air??"
"Oh gak papa ini...."
"Trus gimana ini dok..."
"Ehmmm saya kasih obat apa ya.. demam enggak, pusing enggak, mata merah juga enggak... yasudah istirahat yang cukup ya, saya kasih antibiotik saja..."

"Dok! buat apa antibiotik??? saya kan gak kenapa-kenapa??? kenapa harus antibiotik??? bela saya, karena saya memang jarang sakit an paling takut minum obat, jadi pembelaan aja supaya gak minum obat.
"Yasudah sepertinya itu kecapean, sementara kurangi membacanya dan istirahat yang cukup"

***

Tiba-tiba saja teringat kejadian di atas beberapa tahun lalu, ketika duduk menghadiri acara talkshow Gema Cermat (Gerakan Masyarakat Cerdas Menggunakan Obat) dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Nasional yang ke-51 di JI Expo Kemayoran Jakarta (14-11-15) Ada dr. Purnamawati Sujud, SpA(K), MMPED dan Dra. Azizahwati, MSApt yang dengan sangat cermat menjelaskan pada audiens yang terdiri dari blogger, ibu-ibu dharwa wanita dan teman-teman  pramuka, tentang fakta dibalik antibiotik dan himbauan GeMa CerMat (Gerakan Masyarakat Cerdas Menggunakan Obat).


dr. Purnamawati Sp.Ak - Pendiri Yayasan Orang tua Peduli (YOP), Anggota Komite Pengendalian Resistensi Anti Mikroba Kemenkes RI mengajak kita semua masyarakat Indonesia MELEK tentang penggunaan antibiotik.

Ya, antibiotik yang sering kali ada diantara obat-obat yang terkadang dokter berikan pada pasien. Antibiotik yang mungkin juga banyak tersimpan di dalam almari obat-obatan teman-teman sekalian. Karena ternyata hasil riset kesehatan dasar (Riskesdas) 2013 menunjukkan bahwa 35,2% rumah tangga menyimpan untuk swamedikadi dan 27,8% nya adalah antibiotika.

Saat kita jatuh sakit seperti demam, pilek, batuk, diare dan muntah-muntah. Tubuh akan merasa tidak enak dan tidak nyaman maka seseorang pasti pergi ke dokter periksa lalu mendapatkan obat atau bahkan menerka sendiri obatnya dengan membeli di apotik. Tak jarang dari beberapa obat diantaranya ada antibiotiknya (yang biasanya) anjurannya wajib dihabiskan.

Padahal penyakit batuk, pilek,dan diare biasa itu bisa sembuh sendiri tanpa obat. Batuk dan pilek merupakan reaksi perlindungan tubuh agar paru-paru dari tumpukan lendir, makanya waktu kita batuk berdahak atau berlendir pasti keluar kan lendirnya???. Kemudian muntah dan diare adalah reaksi tubuh dalam membuang zat-zat beracun dalam tubuh.

Tuhan sudah menciptakan manusia sedemikian kuat dengan obat alamiah dari tubuhnya sendiri. So, batuk pilek tidak butuh obat. Muntah diare juga tidak perlu obat yang dibutuhkan adalah oralit. Lantas mengapa setiap sakit demikian kita minum obat yang terkadang juga antibiotiknya??

Itu karena banyak masyarakat yang tidak paham apa fungsi dari Antibiotik dan kurang cermat membaca dan memahami fungsi obat-obatan yang kita minum. Lha kan udah ada dokter?? Well, sekarang kita enggak bahas dokternya yah, kita bahas diri kita saja. Kalau sayang pada diri kita, mari mulai sekarang lebih memahami tentang penggunaan obat.

Antibiotik seringkali dianggap sebagai obat sapu jagat pemberantas virus, pemberantas bakteri, yang anggapan orang kalau vius dan bakterinya mati bersih maka penyakit akan hilang dan tubuh lebih terlindung dari virus atau bakteri. Padahal faktanya batuk pilek diare dan muntah penyebabnya adalah VIRUS.

Gaesss..


Sudah terbayang ukuran virus dan bakteri?? Nah perbedaan lain antara bakteri dan virus selain ukuran adalah sifatnya. Bakteri tergolong makhluk hidup (artinya bisa berkembang) dan virus bukanlah makhluk hidup (tidak berkembang biak). Penyakit-penyakit yang diakibatnya oleh virus contohnya batuk pilek diare, muntah tanpa darah campak dan cacar.

Kalau bakteri dalam tubuh? Bakteri dalam tubuh kita ada dimana-mana dan punya tugas tersendiri. Di dalam tubuh kita ada 10 Triliun sel tubuh dan 90 Triliun sel bakteri. Nah lo! Kenapa bakteri dalam tubuh kita begitu banyak?? karena sebagian besar bakteri dalam tubuh kita itu baik.

Bakteri dalam diri manusia mampu ubah makanan jadi zat gizi, membuat vitamin B dan K, menjaga usus sehat, BAB lancar dan melindungi tubuh dari bakteri jahat!. Bakteri jahat itu seperti apa?? Jika berat badan kita 80 kg maka kurang lebih 2kg nya adalah bakteri dan sebagian kecil dari bakteri itu adalah bakteri jahat yang bisa menimbulkan beberapa penyakit seperti Disentri, Typus, TBC.

Dan taukah kita apa itu arti Antibiotik??? Anti adalah Melawan dan Biotik adalah Hidup. artinya antibiotik itu melawan yang hidup. Siapakah yang hidup??? yang hidup adalah bakteri bukan virus.

Sampai sini saya baru paham, mengapa orang yang sakit terkadang semakin sakit dan yang jarang minum obat malah gak pernah sakit. Karena ketika sakit dan sedikit-sedikit minum obat dan lagi-lagi ada antibiotiknya. Antibiotik yang sering dikonsumsi membuat bakteri kebal antibiotik (superbugs).  Bakteri baik yang bertugas melindungi tubuh dibunuh oleh antibiotik maka tubuh tak ada lagi yang melindungi.

So, kapan antibiotik diperlukan??? ketika penyakit sudah parah sampai taraf infeksi seperti, radang tenggorokan, infeksi sinus yang parah (lebih dari dua minggu), infeksi saluran kemih, luka dan infeksi kulit akibat bakteri staphylococcus dan infeksi telinga. INGAT Batuk pilek demam dan diare biasa tidak perlu antibiotik.


Kemudian hadir pula Dra. Azizah Wati  Ketua Pengurus Daerah Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) dan Praktisi Farmasi Komunitas. Diawal pemaparannya Dra. Azizah mengundang beberapa audiens untuk maju ke depan panggung dan memberikan mereka obat yang berbeda satu persatu. Dan meminta membcaanya satu persatu dan ditanya golongan obat apa untuk apa banyak yang tidak paham.

Nah, ternyata masih banyak dari kita yang tidak paham tentang penggunaan obat. Terkadang ada yang isinya sama mengandung parasetamol tapi nama mereknya beda. Obat batuk pilek didalamnya sudah mengandung parasetamol tapi kadang seseorang beli parasetamol lagi terpisah yang maksudnya untuk menurunkan demamnya. Wah-wah waaahhhhhhhhhh...

Penggunaan obat juga kadang orang kurang teliti. Perintah minum 3x1 itu biasanya jam berapa aja?? jam 7, 12 sama 7 malam. Orang kadang menggunakan patokan jam makan. Padahal tidak seperti itu. Dra. Azizah menjelaskan yang benar adalah pemberian obat 2 x 1, diminum setiap 12 jam sekali. artinya kalau obat 3  x 1, itu diminum setiap 8 jam sekali. Lagi kebiasaan orang Indonesia kadang masih ada yang minum obat dengan teh atau susu. Padahal itu sangat tidak dianjurkan. 

Yuk mari kita lebih cerdas menggunakan obat dengan mendukung GeMa CerMat (Gerakan Masyarakat Cerdas Menggunakan Obat). Caranya dengan memperhatikan aturan minum obat, tanyakan dengan detai pada dokter atau apotik karena itu adalah hak pasien. Jangan asal minum obat. obat hanya untuk penyakit yang sudah parah.

Ingat sayangi diri kita dan keluarga serta teman-teman kita. Lebihlah cermat dan cerdas menggunakan obat.


Akhirnya saya dan teman-teman blogger tau bagaimana penggunaan antibiotik yang tepat dan jadi lebih cermat dan lebih cerdas lagi dalam menggunakan obat-obatan.

Akhirnya saya juga mengerti, kejadian dulu mata saya yang berair itu hanya reaksi tubuh karena mata saya kebanyakan membaca sehingga berair-air tapi utungnya (saya yang tidak suka minum obat) saya berani menolak pemberiaan obat meski hanya antibiotik. Mata sayapun sembuh keesokan harinya setelah saya beristirahan cukup.

Yup seperti yang dikatakan dr. Purnamawati "Tubuh kita sudah mempunyai mekanisme sistem imun yang luar biasa yang diberikan oleh Allah, untuk melawan penyakit" maka tanpa obat sebenarnya tubuh kita mampu melawan penyakit itu sendiri.

Dasarnya saya gak suka obat..
Saya mengalami dan membuktikan (lagi) bagaimana kuatnya tubuh dengan sistem imunnya melawan penyakit. (cerita lagi ya) setelah beberapa hari ini banyak acara liputan blogger saya merasa capek sekali. Kepala pusing, perut rasanya seperti melilit-lilt seperti juga ada kerannya, dan kalau BAB szzoooooorrr cair. Well ini masuk angin.

Ke dokter? enggak. Beli obat ke apotik? enggak. Say hanya meluangkan sedikit waktu untuk beristirahat lebih. Mengistirahatkan badan dan pikiran. Makan buah-buahan sayur dan minum air putih yang cukup dan pagi-pagi jalan kaki kesekitar rumah. Sudah dua hari kemudian saya bisa tersenyum lagi dan berkegiatan seperti semula.

Semoga bermanfaat








2 comments:

  1. wahhhh... kadang dilema, ya..mba, kita percaya aja,,kalo dokter kasih obat anti biotik,,,ternyata kenyataannya ga bagus..buat tubuh..

    ReplyDelete
  2. Klo radang tenggorokan, baiknya konsumsi obat apa ya?

    ReplyDelete

Silakan komentar

 

The Journey of Life Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang