Thursday, November 26, 2015

Mitos Candi Prambanan dan Kisah Secangkir Teh Javana

Aku teringat sekali, ketika aku dan suami (yang kala itu masih teman) akan menemui adik suami yang sedang liburan ke candi prambanan. Mumpung di Jogja katanya, jadi minta ketemuan. Lalu aku dan suami mengendarai sepeda motor dari Yogyakarta ke prambanan.  Menembus kemacetan siang hari di jalur Jogja-Solo, serta panas dan angin yang cukup sepoi-sepoi.
 
Begitu sampai lokasi kita bingung mau ngapain, karena rombongan adik masih keliling-keliling candi prambanan. Akhirnya dari pada bĂȘte aku mengusulkan untuk masuk saja.

“ayuk masuk saja bĂȘte disini..”
“Eitss.. jangan masuk please…”
“Emang kenapa?”
“Kamu gak tau kalau pasangan yang masuk ke candi prambanan nanti bakal putus!”
“Idih, hareee geneeee masih percaya begituan… “

Akhirnya, dia pun mengiyakan permintaanku. Kita pun berjalan menuju loket masuk. Disana juga sudah ada barisan yang antri membeli tiket. Ada sebuah papan yang terpampang diatas panjangnya antrian. Kami pun gak ambil antri dulu, melainkan mendekatkan diri pada (iahi) papan daftar harga tiket masuk. 

Gilakkkkkkkk!!!! 35 ribu!!! Makanku pake ayam 3x itu! ”
 
Aku kaget melihat harga tiket masuk (pengunjung dewasa) ke candi prambanan kala itu. Dan tanpa kusadari suaraku yang kencang itu mencuri perhatian para pengunjung yang antri tiket dan semua mata tertuju padaku. Belum lagi ditambah celetuk jawaban suamiku.

Padahal cuma ngeliatin batu yang dtumpuk-tumpuk doank yaaa 35 ribu… yaudah ayok kaboorrrrrrrrrrrrrr..!!”

Dan kita berdua lari meninggalkan loket itu dan entah apa yang orang-orang tadi pikirkan melihat kita sepasang mahasiswa kere yang gak sangguh bayar tiket yang hanya 35 ribu. Kita istirahat lagi di pinggiran pagar-pagar dan dekat mobil-mobil mini bus parkir.

Aduh pusing aku Mas…..”
 
Rasanya aku masuk angin, karena aku sudah bangun sejak jam 3 pagi lalu berangkat siaran, pulang jam 9 dan lanjut ke kampus dan pergi ke prambanan naik sepeda motor lupa bawa jaket yang cukup melindungi karena buru-buru. (#lengkapsudah)

Tak lama kemudian suami pergi dan kembali dengan membawa secangkir teh hangat yang ia beli di kantin prambanan.

“Minum teh anget dulu biar ususe lemes dan gak pusing lagi. “ 

Aihhh dia kok jadi kaya Ibuku. Iya ibuku itu punya kebiasaan kalau anaknya mau pergi naik kendaraan apa aja selalu dikasih minum teh hangat dan harus dihabiskan. Katanya biar ususnya lemes. Terutama aku yang pemabok kalau naik Bus Ekonomi. Kalau minum teh buatan ibuku aku pasti gak pernah mabok.

“Idih, kok teh sih, panas-panas gini kan enaknya yang seger-seger es kelapa kek apa kek”
“Minumnya teh dulu, biar pusingnya ilang… biar masuk anginnya gak menjadi-jadi”
“Gak mau aku maunya es ke la pa mu da titik”
“Tuh kaaaaaaaan baru aja di pelataran prambanan kita sudah tengkar apalagi masuk”
“Huakwkkwkwkwkkw”  aku tertawa geli lalu meminum teh.

Tak lama kemudian adik keluar dari candi Prambanan bertemulah kita. Cuma ngobrol-gobrol sebentar lalu adik bilang rombongannya buru-buru ngejar jam, mau segera ke destinasi wisata lain yaitu MALIOBORO. Well, kita udah jauh-jauh nyedepa motor masuk angin eh cuma ketemuannya begini aja. Yasudahlah……..

                                                           ***

Itulah, salah satu kenangan kita di Candi Prambanan, sayang beli tiket yang kala itu harganya 35 ribu. Dan kini aku baru tau kenapa Candi Prambanan banyak sekali menjadi destinasi wisata asing maupun lokal. Mereka rela jauh-jauh datang dan ngantri beli tiket (yang kata suamiku) ke dalamnya Cuma ngeliatin batu-batu ditumpuk. #kayanya yang perlu ditimpuk suami nih hahhaa

Yup karena candi prambanan adalah salah satu warisan DUNIA yang telah diakui UNESCO. Sempat nyesel juga yah 5 tahun di Jogja gak masuk ke Candi Prambanan hanya gara-gara percaya mitos bakal putus kalau sepulang dari sana. Toh kita (meski hanya sampe pelataran) main kesana sampai sekarang juga udah nikah dan romantis terus.



Apalagi besok Minggu, 29 November 2015 bakal ada acara gede-gedean di seputaran komplek Candi Prambanan. Ada lomba Lari candi ke candi 10K 29  di komplek candi prambanan yang diikuti lebih dari 2000 peserta 15 tahun keatas yang memperebutkan total hadiah Rp.32.500.000. Ada berbagai kuliner nusantara. Ada jugaband-band lokal yang akan memeriahkan acara serta band ternama shagidog juga bakal tampil diacara ini.

Acara ini diadain sama Teh Javana yang lagi ulang tahun pertamanya. Why Teh Javana?? Ya karena teh ini sangat Indonesia dan menghadirkan cita rasa Indonesia.

Wuahhhh tanggalnya ngpasi banget pas suami lagi banyak orderan pesanan agenda, jadi mau loncat ke Jogja, gak mungkin. Huhuhu aku cuma bisa menyaksikan keraimain ini dari jauh saja. Sebenernya sudah merengek supaya kita bisa mengenang kisah ke Jogja. Lalu suami kasih pilihan, ke Jogjanya pas nanti suami ada ngisi seminar aja bulan Desember. Yesss halan-halaaaannn….

Dan tiba-tiba saja saat ngeblog, tumben-tumbenan suami yang sangat gak bisa pegang kompor sekalipun apalagi racik-racik minuman, tiba-tiba menghidangkan aku sebuah Ice Teh yang seger banget. Katanya sebagai penawar sementara rasa rindu ke Jogja.


Ayaaank makasih… tumben, kamu bisa bikin teh. Pas banget lagi perpaduan gula, teh dan airnya.. seger, hemmm kamu memang tau aku pecinta teh sejati

Iya donk.. kan cuma tinggal tuang teh Javana yang ada di kulkas..”

Gubrak! Ini kan teh yang aku bawa kemarin habis dari acara press converence Teh Javana di FX Life Style Sudirman.

“Ayaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaank…!!“

Akupun lari mengejar suamiku yang ternyata sudah menghabiskan beberapa botol Teh Javana yang aku beli dan cuma kasih aku secangkir Teh Javana aja. Sungguh teeeeeeeerrrrrrrrrrrrrr la lu! hahahaha

1 comments:

  1. Rp35.000 cuma untuk lihat batu bertumpukan? Untung waktu itu gak jadi masuk, ya.

    ReplyDelete

Silakan komentar

 

The Journey of Life Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang