Sunday, January 3, 2016

Ibu, Maafkan Teriakan Anakmu

"Nduk, itu kalau pake kerudung di gedein depannya biar nutupin dada…” kata Ibu sibuk mengamati dan mengomentari caraku berdandan.

He emmm…” jawabku sambil sibuk menata kerudung yang belum jadi. Ibu terus berkomentar 
nekuknya jangan kecil-kecil  biar kalau diputer ke depan bisa nutupin dada…” Ibu masih saja berkomentar dan entah mengapa tiba-tiba aku kesal.

Ibuukkkk! Iyaaaa…. Inikan belum jadi kerudungannya…” suaraku lebih tinggi dari ibu dan ibu kaget lalu terdiam.

Astagfirullah….. 
Kenapa aku jadi teriak ke Ibu, meskipun aku kesal seharusnya aku gak boleh seperti itu. Tapi ucapan-ucapan ibu mengganggu konsentrasiku memodifikasi kerudung ini. Tapi ibu biasa saja, tapi aku tau di hati ibu pasti sakit kalau anaknya begini, tapi lagi-lagi hati ibu seluas samudra jadi ibu tak mempermasalahkan itu.

Setelah kerudungku jadi aku ganti mendandani  Ibu. Ibu paling suka kalau ada aku karena ada teman buat ngobrolin fashion, tas, sepatu, sandal dan baju apa yang bagus, cocok untuk mantenan kondangan dan lain-lain. Setelah kerudung aku dan ibu rapi kita berangkat bersama ke kondangan.

Setelah kondangan sorenya aku harus balik lagi ke Jakarta, rasanya pengen banget ngajak Ibu ke Jakarta bersamaku buat jalan-jalan atau ngapain aja biar Ibu senang. Tapi karena ibu di Bandung masih banyak keluarga besar dan gak bisa ditinggal, ya sudah terpaksa aku pulang dulu ke Jakarta dan Ibu masih tinggal.

Entah mengapa teriakanku tadi pagi terus terngiang di ingatan, dan aku sangat menyesal. Di perjalanan aku telpon Ibu, ingin rasanya mulut ini mengucapkan minta maaf pada ibu, tapi malu, tapi gak enak, tapi takut wagu dan tapi-tapi lain yang berrraaatttttttt banget.

Akhirnya aku menanyakan ibu  lagi ngapain??? Ibu cerita sedang masak-masak dengan tante-tanteku. Aku ingatkan ibu jangan terlalu capek, dari cara bicara Ibu, ibu cukup gembira dan sedang menikmati waktu dengan keluarganya. Begitu aku sampai Jakarta aku telpon lagi Ibu,  masih pengen banget bisa katakan maaf. Tapi lagi-lagi berat dan akhirnya hanya ku kabarkan aku sudah sampai. Aku tanya lagi Ibu lagi ngapain? 

Malam hari, aku tidur dan bermimpi bertemu Ibu. Ya Tuhaaaannnnn…. Penyesalanku sungguh besar, ingin rasanya bertemu Ibu dan minta maaf secara langsung ke Ibu. Langsung saat itu juga aku buka smartphone dan lihat jadwal kereta yang kosong. Aku putuskan tanggal  4 pulang kampung untuk menuntaskan rasa kangen ke Ibu yang belum tuntas di Bandung kemarin serta minta maaf secara langsung. 

Mendengar aku pulang Ibu tak pernah meminta apa-apa bahkan jika harga tiket kereta mahal, ibu mending melarangku pulang. Tapi aku ingin hadiahkan sesuatu untuk ibu. Tapi karena waktunya sudah mepet, hmmm gimana kalau ibu sendiri aja yang milih. 

Transaksi pembelian tiket kereta PP dan Rukuh Moxi

Ibu yang kini semakin tua dan semakin rajin sholat dan pergi ke musholla, mungkin ibu akan senang jika memiliki rukuh yang adem, lembut serta cantik dari koleksi moxi.co.id . Hemmmmmmmmmmm tak akan pernah ada hadiah yang sebanding untuk Ibu yang memiliki cinta seluas samudera, maaf yang tak terhingga dan kesabaran yang tak pernah ada batasnya itu.

Aku hanya ingin hadiahkan, permohonan maafku pada Ibu setulus-tulusnya dan berjanji akan menjadi anak yang lebih baik lagi di tahun 2016. Aku ingin katakan……. ini, sebagai Hadiah Tahun Baru Untuk Ibu.


4 comments:

  1. #hiks...teringat dulu aku juga sering2 marah sama ibu, tapi giliran merantau, malah bikin kangen

    ReplyDelete
  2. Nyesel banget pasti ya cha? Hiekz, pernah ngalamin juga bentak ibu wkatu dulu, eh sekarang sama abege aku juga gantian dibentak juga

    ReplyDelete

Silakan komentar

 

The Journey of Life Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang