Monday, November 28, 2016

Sukses Membangun UKM dari Nol Hingga Memasarkan Secara Digital




Sudah ke empat kalinya aku mengikuti acara Smesco Digipreneurday yang selalu menghadirkan narasumber-narasumber inspiratif untuk pengembangan UKM Indonesia dalam pemasaran digital.  

Namun baru kali ini aku merasa benar-benar mendapatkan ilmu yang sangat inspiratif sekali  dari Ibu Lisma D Gumelar atau istri dari Dedi Gumelar atau yang kita kenal sebagai komedian Miing.

Inspiratif, karena bisnis fashionnya  ini otodidak. Dia tak pernah sekolah fashion atau apapun. Juga tak pernah terfikir untuk bisbis. Mungkin, pengalaman Bu Lisma ni bisa menjawab pertanyaan semua orang yang ingin memulai bisnis dari nol.

Inspiratif, karena bisnis Bu Lisma yang sempat dipasarkan melalui online dijiplak abis abisan dan di buat kembali lalu dijual dengan harga sangat rendah. Sempat trauma dan kapok tapi Bu Lisma tak lantas menutup mata dengan zaman yang serba Digital ini. 

Mungkin pengalaman Bu lisma ini akan menjawab juga pertanyaan para pelaku bisnis UKM yang pernah mengalami hal yang sama dan bagaimana menyikapi dan mengatasinya. 

Semua dikupas tuntas di acara Smesco Digipreneurday Exploring The Content Marketing Strategy Online VS Offline Bisnis.

Bu Lisma Mulai Bisnis dari Nol

Banyak orang bertanya-tanya bisakah memulai bisnis dari nol? Jawabannya bisa banget. Dan bu Lisma sudah membuktikannya.Yups Bu Lisma sama sekali tak pernah ada bayangan untuk membuat baju apalagi berbisnis.

Awal mula ceritanya adalah dari suaminya Pak Dedi Gumelar atau yang kita kenal komedian Mi'ing. Bu Lisma yang bekerja sebagai pegawai di Bank Swasta selalu berangkat lebih pagi dari pak Dedi dan pulang malam hari. Kemudian Pak Dedi berfikir, istrinya ini bekerja gajinya segitu tapi dia kurang memiliki waktu untuk anak dan keluarga.

Akhirnya Pak Dedi menawarkan istrinya agar resign dan menjaga anak-anaknya saja, gajinya setiap bulan dari bank diganti Pak Dedi gitu. Hehhe suami idaman sekali. 

Ibu Lisma tipe perempuan yang suka membuat dan mendesain bajunya sendiri. Nah ketika Ibu Lisma mengantar anak ke sekolah, atau bertemu teman-temannya, banyak yang naksir dan menanyakan bajunya beli dimana? Nah dari situlah kenapa tidak Bu Lisma membuat untuk di Jual.

Dasarnya Pak Dedi adalah suami yang setia pengertian, dia mengerti sekali Ibu Lisma yang biasa bekerja tentu akan jenuh jika diam saja di rumah, maka Pak Dedi memfasilitasi dan menemani serta mendukung Bu Lisma untuk membuat Baju-baju dan mendirikan Rumah Baju Ambu.

Model-model baju Bu Lisma tidak dibuat secara massal. Melainkan limeted, karena pengerjannya pun khusus dan detil sehingga kualitasnyapun bisa dijamin. Pekerja atau SDMnya Rumah Baju Ambu adalah masyarakat sekitar sana. Jadi malah memberikan peluang kerja yah...

Trik Pemasaran Offline Ibu Lisma
Trus bagaimana cara pemasaran Bu Lisma? Nah Bu Lisma ini termasuk orang yang sukses bisnis secara offline. Karena kualitasnya yang bagus maka dari mulut ke mulut karya bu Lisma ini di kenal. Dari temannya yang ingin baju seperti yang dikenakan bu Lisma lalu temannya ke temannya lagi.

Untuk pemasaran lebih luas komunikasi yang selama ini digunakan adalah melalui BBM, WA. Tak hanya itu Ibu Lisma juga menjalin dengan Mitra dagang, mengikuti pameran-pameran. Bergabung dengan Smesco dan Ibu Lisma juga bergabung dengan Ikatan Pedagang Baju Muslim. Ibu Lisma juga aktif dan mengikuti berbagai organisasi UKM




Meskipun Ibu Lisma bergabung dengan Ikatan Perancang Busana Muslim, bukan berarti baju-baju buatan Bu Lisma hanya bisa di kenakan oleh muslim saja. Bu lisma membuat baju mulai dari yang casual sampai baju untuk fashion show.

Suami Ibu Lisma, Dedi Gumelar memberikan masukan tersebut. Agar Ibu Lisma mendesain baju-bajunya sesuai syariat tapi juga netral, sehingga bisa juga di kenakan oleh ang bukan muslimah. 

Beliau juga sempat bercerita terkait memasarkan bajunya melalui online. Ada sedikit pengalaman buruk ketika Bu Lisma mencoa mempromosikan bajunya melalui web. Ternyata sempat ada yang meniru persis tapi dijual dengan harga yang jauh lebih rendah.

Nah, kemudian di era digital ini apakah Bu Lisma tidak takut persaingan yang begitu deras? gak ingin memasarkan secara online? Bu Lisma menjawab, beliau tidak akan menutup mata dan tidak memungkiri bahwa pemasran online sangat diperlukan. Mungkin selanjutnya Ibu Lisma akan membuat second line untuk baju yang akan di jual secara online.

Bursa Sajadah Sukses Pemasaran Secara Online 



Nah setelah Ibu Lisma yang sharing bagaimana sukses bisnis dengan offline harus ada penyeimbang dong yah. Apalagi sekarang eranyanya digital. Ibu Lisma saja juga mulai tertarik dengan pemasaran online.

Nah ada Bapak Derry Dharmawan sebagai manager Bursa Sajadah Online yang sukses memasarkan bisnisnya secara online juga memberikan tips berjualan Online.

Adanya toko online sangatlah penting untuk menjangkau pembeli yang tidak terjaungkau secara offline. Secain itu toko online adalah katalog untuk para semua calon pembeli menentukan apa yang ingin di beli. Nah, bagi mas Derry adanya toko offline juga sangat penting. Karena itu salah satu indikasi di toko onlinenya bahwa toko ini dapat di percaya karena ada toko offlinenya. SEhingga kalau ada apap apa bisa langsung datang.

Selain toko online, mas Derry juga membuat sosial media seperti facebook twitter dan lain-lain. Fungsinya untuk menggiring calon pembeli ke toko online maupun ofline. Fungsi berikutkanya adalah untuk mengiformasikan adanya diskon, promo,, member dan info umroh dan haji.

Untuk pemasaran di sosial media ini Bursa Sajadah selalu memposting produk yang kita jual harus mencantumkan harga, agar konsumen tidak perlu repot-repot menanyakan harga kembali saat melihat produk yang kita posting.

Meskipun ada toko online, faktanya 75% pendapatan Bursa Sajadah Online adalah dari chat bukan dari sistem toko online. Itu artinya orang indonesia lebih merasa yakin dan aman saat bertransaksi jual beli melalui chat secara pribadi. Mungkin lebih mantep lebih sreg atau juga mungkin masih bisa nego hehehe

Nah untuk itu good service yang harus diberikan kepada konsumen, diantaranya adalah

Respon yang cepat. Menyapa konsumen dengan sapaan pribadi. Gunakan pronoun, sapaan mas/mbak sebelum menyebut nama atau ikuti kebiasaan konsumen. Gunakan smile icon. Hindari singkatan yang tidak perlu atau alay. Respon yang berbeda antara nama dan sapaan umun seperti mas atau mbak.


Semua itu dilakukan untuk membuat para pembeli merasa nyaman dan ters ingin bertransaksi.

So gaes jangan takut untuk memulai bisnis dari nol. Kita sudah punya ilmu pemasaran yang sempurna baik secara offline maupun online. Untuk bisa mendapatkan ilmu-ilmu berharga seperti ini langsung dari praktisinya terus pantau kegiatan Smesco Digipreneur berikutnya yah. 

Kesuksesan ada ditangan kita.


 

 





5 comments:

  1. usaha memang di tangan kita ya , bagaimana kita bisa berhasil

    ReplyDelete
  2. Hari ini minggu kemarin ya ini mbak?? pengen ikut sebenarnya tapi sudah ada janji sama doi hehehe. jadi saya urungkan niat saya. melalaui tulisan ini sedikitnya saya bisa belajar memulai usaha dari nol

    ReplyDelete
  3. Acara yang bikin semangat berbisnis ya

    ReplyDelete
  4. pengalaman yg inspiratif....
    selalu ngiri sm mrk yg maju terus buat jd pebisnis dan meninggalkan dunia kerja yg monoton
    #mimpi bangeeet

    ReplyDelete

Silakan komentar

 

The Journey of Life Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang