Thursday, June 8, 2017

Coba Ingatlah Ini dan Kembali Bumikan Pancasila

Aku masih ingat dan melekat dalam ingatanku sewaktu aku kecil dulu, betapa nyamannya dunia ini, harmonis sekali masyarakatnya dan saling menghormati menghargai.

Dulu aku tinggal di pinggiran kota kecil Cepu. (Alm) Bapakku dulu seorang penjahit namun beliau juga seorang pemuka agama Islam yang cukup di kenal di kotaku. Aku punya tetangga kiri kanan non muslim. Dan mereka semua baik bahkan sudah seperti saudara sendiri.

Tetangga kananku, aku memanggil mereka dengan panggilan Mami dan Papi. Mereka begitu menyayangi aku dan kakak kakakku seperti anak mereka sendiri. Bahkan setiap sore Papi tak pernah absen mengajakku naik sepeda onta sepulang aku mengaji TPA. 

Mami, juga selalu membuka jendela kamarnya saat waktu sahur tiba lalu membangunkan kami dengan suaranya...

"Om Issss...(Panggilan bapakku) wis Tangi rung.. sahur... Sahurrrr...." 

Mami sangat khawatir kami kesiangan tidak bangun sahur, karena mami tau kami sepulang taraweh tadarus di masjid sampai malam. Padahal bapakku juga selalu sholat malam sehingga tidak pernah absen sahur atau kesiangan.


Namun bapak lalu membuka jendela samping rumahku juga yang berhadapan dengan jendela samping mami. "Iya mi, wis Tangi.... Ayo Melu sahur mi..." Kadang mami juga ikut memberikan makanan kecil untuk kita sahur.

Aku juga berteman dekat dengan tetangga kiri ku yang non muslim. Setiap hari main bersama. Tapi saat sholat lima waktu aku juga pulang untuk sholat. Bahkan saat Ramadhan mamanya selalu membuat es batu untuk kami berbuka puasa. 

Secara jaman aku kecil orang tuaku belum punya kulkas. Kulkas masih barang mewah. Tapi puasa kami segar saat berbuka dengan es batu buatan Mama temanku itu. 

Rasanya dulu agama tak pernah jadi alasan perbedaan apalagi sampai menjadi perpecahan. Bahkan rasanya kami semua ini sama keluarga. Sedikitpun agama, keyakinan, pilihan, asal daerah, suku, tak pernah jadi masalah.


Apakah kamu juga merasakan begitu?


Tapi kenapa, dewasa ini rasanya isu agama menjadi sangat sensitif. Di berbagai sosial media meributkan hal hal yang sebenarnya tak seharusnya di diributkan. Di sosial media kita bagaikan minyak tanah yang terpercik api kecil lalu terjadi kebakaran.

Era digital era sosial media memang memiliki banyak kelebihan. Hanya dengan satu kalimat bisa jadi viral bahkan bisa mengumpulkan jutaan orang. Tapi ingat sosial media juga digunakan para penyebar isu sesat yang ingin memecah kesatuan kita, menghembuskan kebencian dan perpecahan.

Kita sebagai pengguna sosial media harus bijak dalam mencerna informasi dan harus bijak pula dalam menyebarkan informasi. Kini bukan lagi mulutmu harimaumu tapi jarimu harimaumu.




Maka tak heran jika 5 Juni 2017 Lalu Pak Zulkifli Ketua MPR RI mengajak para netizen agar menggunakan media sosial sebagai ajang memperluas persaudaraan, bukan malah menambah musuh. Gunakan media sosial untuk merangkul, bukan memukul. Medsos itu sarana persaudaraan, bukan malah menambah musuh.

Pak Zulkifli meminta netizen berpartisipasi dalam mengembalikan nilai-nilai keindonesiaan. Melalui media sosial, Pak Zulkifli meminta netizen menyebarluaskan nilai-nilai keindonesiaan itu kepada masyarakat.

Yes, bener banget gaes...Indonesia ini punya banyak agama, suku dan daerah. Kita ini berbeda-beda tapi satu Indonesia. Kalau tidak beragam seperti ini bukan Indonesia namanya. Dan unuk mempersatukan perbedaan itu kita punya PANCASILA.

Buat kamu yang mungkin lupa atau dulu tidak menghafal pancasila ini aku tuliskan kembali sebagai pengingat.

Berikut ini lima sila dalam Pancasila:
  1. Ketuhanan Yang Maha Esa
  2. Kemanusiaan yang adil dan beradab
  3. Persatuan Indonesia
  4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan
  5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia



Sekretaris Jenderal Majelis Permusyawaratan Rakyat Ma’ruf Cahyono juga berharap kita sebagai pengguna sosia media, netizen dapat ikut membantu tugas MPR dalam membumikan dan membunyikan Pancasila.

Artinya tak hanya menghafalkan pancasila tapi kita juga mengamalkannya. eperti sila 1 ketuhanan yang maha esa. Kita semua yang beragama meyakiti memiliki tuhan yang esa. Meski berbeda beda agama tentu kita tetap satu dalam negara Indonesia. Maka kita harus saling rukun menghormati dan menghargai agama masing-masing.


Kita harus kembali melakukan stimulasi agar Pancasila menjadi perilaku sehari-hari.

Yuk  gaes ingat moment keharmonisan masyarakat yang beragam yang berada dalam lingkunganmu dulu. Ingat bertapa rukunnya kita, indahnya kita dalam perbedaan.

Yuk kembalikan dan bumikan kembali Pancasila dalam kehiduan kita bermasyarakat untuk kedamaian dan persatuan Indonesia.

Ini sebuah Puisi dibawakan oleh Sekretaris Jenderal Majelis Permusyawaratan Rakyat Ma’ruf Cahyono semoga mengingatkan kita kembali akan pentingnya persatuan Indonesia.


Masih Indonesiakah kita, setelah sekian banyak jatuh bangun.

Setelah sekian banyak terbentur dan terbentuk.

Masihkah kita meletakkan harapan di atas kekecewaan.

Persatuan di atas perselisihan. 

Musyawarah di atas amanah.

Kejujuran di atas kepentingan.

Ataulah ke Indonesiaan kita telah pudar tinggal slogan.

Tidak, karena nilai-nilai itu kita lahirkan kembali. 

Kita bumikan dan kita bunyikan dalam setiap jiwa dan manusia Indonesia.

Dari Sabang sampai Merauke kita akan melihat gotong royong dan tolong menolong.

Kesantunan bukan anjuran akan tetapi kebiasaan.

    

     


0 comments:

Post a Comment

Silakan komentar

 

The Journey of Life Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang