Monday, June 26, 2017

CSR Semen Merah Putih Membangun Fondasi Kuat Masa Depan Negeri


Akhir ramadhan lalu aku mendapat kesempatan untuk kumpul-kumpul bersilaturrahmi sambil buka puasa bersama dengan teman-teman blogger dan media di kantor Mediatrus Jakarta. Kami juga bertemu dengan Pak Sigit Puclic Relationnya Semen Merah Putih.

Wah, dengar semen merah putih, anganku langsung melayang pada logo-logo semen merah putih yang banyak terpampang nyata di toko bangunan dan TVC yang pernah aku lihat di layar kaca ini.



Ada yang membuatku sejenak berfikir tentang taglinennya yaitu 'fondasi yang kuat untuk masa depan negeri' dan juga lambang badak bercula. Ngobrol-ngobrollah kami tentang semen merah putih sebelum akhirnya buka puasa bersama. 

FYI ya gaes. Semen merah putih ini adalah pabrik semen yang punya berkomitmen menjaga konsistensi kualitasnya melalui penyediaan bahan baku semen terbaik dan pembangunan pabrik-pabrik berteknologi mutakhir yang dioperasikan oleh tenaga kerja yang profesional. 

Kenapa dia begitu menjaga kualitas gaes, as you know sekarang banyak bangunan baru cepat jadi tapi cepat pula rusaknya. That! karena bahan yang digunakan tidak menggunakan kualitas yang bagus. Tapi semen merah putih selalu menyediakan bahan kualitas no 1.

Ngomongin kualitas gak bisa diragukan lagi deh. Lha wong semen ini sudah  pernah dapat penghargaan Home Preferred Brand kategori Best Portland Cement, pilihan pembaca Media Bintang Group Indonesia selama dua tahun berturut-turut di tahun 2015-2016.

Oya Semen merah putih juga udah punya enam pabrik di Indonesia yang tersebar di wilayah Banten, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Sumatera Utara, dan Bengkulu.

Balik lagi ke laptop!

Thursday, June 8, 2017

Coba Ingatlah Ini dan Kembali Bumikan Pancasila

Aku masih ingat dan melekat dalam ingatanku sewaktu aku kecil dulu, betapa nyamannya dunia ini, harmonis sekali masyarakatnya dan saling menghormati menghargai.

Dulu aku tinggal di pinggiran kota kecil Cepu. (Alm) Bapakku dulu seorang penjahit namun beliau juga seorang pemuka agama Islam yang cukup di kenal di kotaku. Aku punya tetangga kiri kanan non muslim. Dan mereka semua baik bahkan sudah seperti saudara sendiri.

Tetangga kananku, aku memanggil mereka dengan panggilan Mami dan Papi. Mereka begitu menyayangi aku dan kakak kakakku seperti anak mereka sendiri. Bahkan setiap sore Papi tak pernah absen mengajakku naik sepeda onta sepulang aku mengaji TPA. 

Mami, juga selalu membuka jendela kamarnya saat waktu sahur tiba lalu membangunkan kami dengan suaranya...

"Om Issss...(Panggilan bapakku) wis Tangi rung.. sahur... Sahurrrr...." 

Mami sangat khawatir kami kesiangan tidak bangun sahur, karena mami tau kami sepulang taraweh tadarus di masjid sampai malam. Padahal bapakku juga selalu sholat malam sehingga tidak pernah absen sahur atau kesiangan.


Namun bapak lalu membuka jendela samping rumahku juga yang berhadapan dengan jendela samping mami. "Iya mi, wis Tangi.... Ayo Melu sahur mi..." Kadang mami juga ikut memberikan makanan kecil untuk kita sahur.

Aku juga berteman dekat dengan tetangga kiri ku yang non muslim. Setiap hari main bersama. Tapi saat sholat lima waktu aku juga pulang untuk sholat. Bahkan saat Ramadhan mamanya selalu membuat es batu untuk kami berbuka puasa. 

Secara jaman aku kecil orang tuaku belum punya kulkas. Kulkas masih barang mewah. Tapi puasa kami segar saat berbuka dengan es batu buatan Mama temanku itu. 

Rasanya dulu agama tak pernah jadi alasan perbedaan apalagi sampai menjadi perpecahan. Bahkan rasanya kami semua ini sama keluarga. Sedikitpun agama, keyakinan, pilihan, asal daerah, suku, tak pernah jadi masalah.


Apakah kamu juga merasakan begitu?
 

The Journey of Life Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang