Thursday, August 9, 2018

'Dropping Box' Cara Jitu Atasi Sampah Kemasan


Dulu, sewaktu aku masih tinggal di kawasan padat penduduk di Jakarta di bangunan lantai tiga. Membuat aku malas beli air galon. Karena gak sanggup angkat galonnya. Jadi kalau minum, aku selalu beli air kemasan botol. Waktu itu juga kalau makan selalu beli. Gak pernah masak.

So sampah yg aku hasilkan dari keluarga aku sendiri ( aku dan suami tok siii) sudah bisa dibayangkan lah ya. Belum sampah bekas bungkus paket seperti kardus kertas dan lain lain.

Nah kala itu, sampah kemasan minuman selalu aku kumpulkan dalam satu plastik besar, begitu juga kertas-kertas bekas bungkus paket dan kerdus seusai beli sesuatu. Lalu kalau dah banyak aku taruh aja tu di bawah depan gerbang rumah.

Tak lama kemudian pasti sampah itu udah hilang dari pandangan. 

Kemana hilangnya? Di Jakarta pemulung itu banyak. Jadi kalau lihat sampah macam gitu ya langsung mereka ambil karena bernilai uang. Tapi beda, kalau sampah botol dan lain-lain aku campur dengan sampah makanan kotor bau basah, mereka cenderung malas ambil atau hanya ambil yg masih bersih atau layak lalu sampahnya di acak acak malah ngotorin.

Itu hanya secuil dari upaya aku memilah sampah. Soal persampahan Indonesia ini khususnya kota besar masih begitu rumit. Faktanya di Indonesia rata-rata menghasilkan 0,7 kg sampah pertahun. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLKH) mencatat timbunan sampah di seluruh Indonesia tahun 2017 mencapai 65,8 juta perton. 

Di Jakarta sendiri tercatat volume sampah telah mencapai 6.500-7000 ton perhari seiring dengan meningkatnya populasi penduduk dan kebutuhan masyarakat.

KINI ADA DROPPING BOX
Nah, yang terbaru ini ada cara baru mengatasi sampah kemasan di Jakarta. Namanya Dropping Box persembahan dari PRAISE untuk sampah kemasan. Dropping Box ini baru saja di luncurkan pada Rabu 8 Agustus 2018 kemarin.

Jadi, nanti di lingkungan Jakarta bakal ada 100 Dropping Box yang akan disebar oleh PRAISE di lokasi pertokoan, fasilitas publik, perkantoran hingga institusi pendidikan. 
Setiap sampah yang dibuang di sini akan diambil untuk diolah oleh industri pengolahan sampah. 

Tuesday, August 7, 2018

Miliki Asuransi Kesehatan Seharga Kopi



Hello millenials... Berapa kali kamu dalam seminggu nongkrong di Kafe? dan berapa harga segelas kopimu? Stop! jangan jawab, simpan ya, nominal harganya dalam hati saja. Aku juga sama kok kayak kamu gaes. Ha ha ha dan kemudian pada akhirnya aku malu pada diriku sendiri. 

Jadi gini ceritanya....

Kita sebagai generasi millenial, kerja udah gak harus kantoran lagi kan kan. Kerja bisa dimana aja, kapan aja, bagaimana aja. Rata-rata millenial kerjaannya freelancer. Ngerjain ini itu, ambil project ini itu. Kadang ada duit kadang gak ada duit. Aku gak bisa pungkiri ini. Apa aku doang ya yang kayak gitu? ha ha ha terlanjur curhat


Enggak, ternyata Mas Alfian Phang, seorang content creator ( foto paling kanan diatas) ini juga sempat cerita tentang pekerjaannya dan aktifitas padatnya. Dan orang dengan segudang kegiatan itu juga cerita sejujur-jujurnya kalau dia ini sampai tadi siang tidak punya satupun asuransi yang ia miliki. Ya, kalau sakit rogoh kocek dalam sekali... 

Monday, August 6, 2018

Colour to Life, Gaya Mewarnai Kidz Jaman Now


Haloaaaa... ingat Dinda, si kecil embem emes aku, yang cita-citanya jadi YouTuber ini? Yups dia seneng banget mewarnai, menggambar dan matanya bakal berbinar-binar kalau dikasih pinjam hape buat nonton Youtube.

Well, memang kita gak bisa pisahkan kidz jaman now dengan gadget yah. Tapi kita juga gak boleh lupa untuk menggali segala potensi dan keterampilan anak. Supaya kemampuan motoriknya bagus dan semuanya bisa seimbang. Main gadget boleh lah tapi tetap dibatasi.

Dinda ini, suka banget menggambar. Dari kecil umur 2 tahun setiap kali diajak kemana-mana pasti harus bawa kertas dan pensil. Itu adalah obat jenuh dia. Kalau jenuh pasti coret-coret.

Pernah pertama kali diajak naik kereta api, wuuu seneng banget dia, begitu sampai rumah langsung gambar kereta api lengkap dengan jendela dan pintunya sampai kepala kepala kereta juga ia gambar. 

Kini semakin besar ia lebih suka buka Youtube nonton video menggambar atau sekedar nonton video kesukaannya. Nah supaya tidak kecanduan gadget sekarang aku juga punya cara jitu mengurangi intensitas Dinda nonton YouTube dengan ajak dia mewarnai menggunakan Colour to Life. 


Tada.....
Yuhuuuu ini dia Colour to life, spidol bagi buat Dinda ajaib banget. Kenapa ajaib? 

 

The Journey of Life Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang